Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Dapat Mengurangi Beban Masyarakat

Iqbal Syaifullah
27/06/2026, 17:28 WIB
Last Updated 2026-06-27T10:28:42Z
Uploaded Image
JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Ccore) Indonesia Mohammad Faisal menilai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sudah seharusnya dilakukan seiring melemahnya harga minyak mentah dunia. Langkah tersebut dinilai dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat, terutama kelompok kelas menengah.

Menurut Faisal, harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti mekanisme pasar atau floating, sehingga penyesuaiannya perlu mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional.

"Jadi semestinya kalau harga minyak mentah dunia sekarang sekitar US$ 70-an per barel, bahkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) itu sudah US$ 68 per barel, mestinya (harga BBM nonsubsidi) turun, dan ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah misalnya," ujar Faisal dikutip dari Antara, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, mekanisme tersebut berbeda dengan BBM bersubsidi yang penetapan harganya bergantung pada kebijakan pemerintah karena adanya subsidi.

Faisal berharap penyesuaian harga segera dilakukan apabila harga minyak dunia tetap bertahan di kisaran saat ini.

"Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM nonsubsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan, apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran US$ 70 per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan," katanya.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan meminta jajaran direksi menyiapkan langkah penurunan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026. Usulan tersebut muncul setelah harga minyak mentah global menunjukkan tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 71,533 per barel, sedangkan minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$ 74,835 per barel.

Iriawan mengatakan, Pertamina akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Mengacu pada harga per 10 Juni 2026, Pertamax (RON 92) dipasarkan seharga Rp 16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Pertamax Green 95 (RON 95) juga naik menjadi Rp 17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax Turbo (RON 98) masih bertahan di Rp 20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp 24.800 per liter.

Meski demikian, Iriawan menegaskan penyesuaian harga BBM tidak dapat dilakukan secara instan karena harus melalui mekanisme evaluasi berkala. Menurutnya, sistem tersebut diterapkan agar konsumen tidak terdampak langsung oleh fluktuasi harga minyak dunia yang bergerak sangat dinamis.

TrendingMore